Amerika Serikat Tunduk Kepada Indonesia

Menjatuhkan Bung Karno adalah satu-satunya cara agar Amerika bisa bercokol kuat di Indonesia. Sudah dicoba segala cara agar Bung Karno jatuh, tidak berhasil juga. Dicoba dengan cara ancaman embargo, penghentian bantuan…..ehhh Bung Karno malah teriak, “Go to hell with your aid!”.

Messi tertipu oleh Ronaldinho (sosok yg mirip pemain brazil)

"ungkap messi:" Apa yang kamu lakukan berjalan pada sini untuk melihat saya? "Ketika dia memegang tangan saya, saya berlutut saya [dan membungkuk]. Itu sangat emosional. "

Ketika Indonesia Menjadi Kapitalis ( Rezim Orde Baru )

“Ketika tepat 100 tahun gerakan Zionisme Internasional merayakan kelahirannya, dan salah seorang pengusaha Yahudi dunia bernama George Soros memborong mata uang dollar AS dari pasar uang dunia, maka meletuslah krisis keuangan yang berawal dari Thailand dan terus merembet ke Indonesia.”

visi misi Jokowi-JK dengan Prabowo-Hatta

Jokowi-JK:Prabowo-Hatta: Visi: Membangun Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur serta bermartabat Visi: Terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong-Royong.

gadis LOMBOK dan adat sasak

nyongkolan, gendang belek, tari rudat, tari jngger,gamelan, chilokak dan peresean. antara adat budaya sasak yg masih utuh di lombok.

Tuesday, December 14, 2010

PRESIDEN : INDONESIA MENUJU SALAH SATU KEKUATAN EKONOMI

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia dalam jangka waktu 15 tahun mendatang mampu menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia dengan memiliki modal yang ada saat ini.

Hal tersebut disampaikan Presiden dalam kuliah umum dihadapan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya dalam rangka dies natalis ke-50 universitas tersebut di Surabaya, Selasa.

"Kita ingin Indonesia menjadi negara maju di abad 21. Kalau saya bicara abad 21, meski masih 90 tahun lagi selesai, kita tidak harus menunggu selama itu," katanya.

Presiden mengatakan sebagai negara maju, tidak hanya di bidang ekonomi, namun juga di semua sektor kehidupan termasuk pertahanan, teknologi, ilmu pengetahuan dan inovasi.

"Dalam bentangan waktu yang bisa dijangkau, 15 tahun ke depan, maka saya harus katakan tujuan kita adalah dalam 15 tahun mendatang kita ingin menjadi emerging economi seperti BRIC," kata Presiden.

Kepala Negara mengatakan, dengan tujuan dan cita-cita tersebut, tidak sedikit pihak yang masih merasa skeptis bahwa hal tersebut akan tercapai.

Secara tegas, Presiden mengatakan bila modal yang telah dimiliki saat ini seperti fundamental ekonomi yang baik, kemampuan penguasaan teknologi dan inovasi serta hal lainnya terus dikembangkan maka tujuan dan cita-cita tersebut bisa dicapai.

Ia menjelaskan beberapa contoh soal dalam negeri yang semula dianggap tidak akan bisa diselesaikan seperti konflik di Aceh dan juga prestasi sepakbola nasional, namun pada kenyataannya hal tersebut bisa menjadi lebih baik.

"Kita punya sumber daya yang besar, karakter pejuang dan hampir menjadi emerging economic. Kalau kita jaga momentum dan track sekarang, maka bisa ikuti jejak negara lain," kata Presiden.

Ia menambahkan, "sesekali perlu kita melihat cermin, bila cermin
objektif maka gambarnya juga objektif. Saya senang melihat analisis dari lembaga internasional karena objektif, karena analisis terbuka."
Presiden mengatakan masukan dan kritik diperlukan agar sesuatu mencapai hasilnya secara maksimal.

Peringatan dies natalis ke-50 ITS dihadiri oleh Presiden yang
memberikan kuliah umum dengan judul Teknologi, Ekonomi dan masa depan
Indonesia.

Hadir dalam acara itu Ibu Negara Ani Yudhoyono, Mensesneg Sudi
Silalahi, Seskab Dipo Alam, Menpora Andi Mallarangeng dan Gubernur Jatim Soekarwo serta Wagub Jatim Saifullah Yusuf, Rektor ITS Prof Ir Priyo Suprobo.

Presiden juga meresmikan gedung pusat robotic ITS serta gedung pusat energi universitas tersebut. Selain itu Kepala Negara juga membuka pertemuan inovasi nasional 2010 di Bandung yang diselenggarakan Institut Teknologi Bandung melalui telekonferensi. (*)

copy by: antaramataram

Saturday, December 11, 2010

warga LOMBOK di penjara 12 thn & 10 kali chambuk. karena merampok di malaysia


BATU PAHAT 10 Dis. - "Jangan perbodohkan sistem kehakiman Malaysia."Amaran tersebut diberikan oleh seorang Hakim Mahkamah Sesyen di sini yang berang selepas seorang warga Indonesia masih menafikan pembabitannya dalam satu kejadian samun ketika diberi peluang membuat rayuan sebelum hukuman dijatuhkan.

Hakim Abu Bakar Manat selain itu berkata, tertuduh Amaq Elvil, 30, dari Lombok telah memberikan keterangan yang tidak masuk akal dan pembelaannya itu sekadar penafian kosong semata-mata.

''Kamu mengatakan masuk ke negara ini menaiki pesawat yang memerlukan dokumen sah namun selepas diperiksa kamu tidak memiliki sebarang dokumen,'' kata hakim itu.

Tambahan pula kata Abu Bakar, mangsa yang menjadi saksi pendakwaan telah berjaya mengecam tertuduh sebagai orang yang menyamunnya.

Justeru itu, Abu Bakar menjatuhkan hukuman penjara 12 tahun dan sebatan 10 kali ke atas Amaq Elvil dan juga rakannya, Mahmud, 32.

Mereka didakwa melakukan rompakan berkumpulan bersenjatakan parang dan kayu ke atas Sazaruddin Ahmad, 35.

Perbuatan itu didakwa dilakukan bersama dua lagi suspek yang masih bebas, pada pukul 3.05 pagi pada 13 Mei lalu, di No. 76, Kampung Bunagong, Mukim 7, Parit Raja di sini.

Warga asing itu didakwa mengikut Seksyen 395 Kanun Keseksaan yang jika sabit kesalahan boleh dihukum penjara maksimum 20 tahun dan sebatan.

Fakta kes yang dikemukakan oleh Timbalan Pendakwa Raya, Nor Afiah Saini menyatakan, kedua-dua tertuduh bersama rakannya menjadikan kawasan kampung yang terletak bersebelahan lebuh raya sebagai sasaran untuk menyamun rumah penduduk di situ.

Pada hari kejadian, mangsa sempat memberitahu salah seorang jiran bahawa rumahnya dimasuki perompak sebelum penduduk kampung menghubungi polis.

Rumah mangsa dan jalan masuk yang digunakan oleh perompak telah dikepung selama sembilan jam.

Tertuduh yang sempat melarikan barang kemas serta wang mangsa yang bernilai RM1,400 kemudian berjaya diberkas oleh Unit Anjing Pengesan, Segamat ketika bersembunyi di sebuah kawasan berlumpur berhampiran kampung berkenaan.

Tertuduh yang tidak diwakili peguam merayu supaya hukumannya diringankan kerana dia terpaksa bekerja untuk menanggung isteri dan anak-anak.

Thursday, November 25, 2010

disangkakan intan, namun kaca yg didapatkan.

Atas nama cinta, seorang perempuan Malaysia nekat pergi ke Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Hanya bermodal paspor, visa dan sedikit uang.

Harlizan yang datang dari Kuala Trenggano, Malaysia bahkan sudah 1,3 tahun tinggal di daerah itu, atas permintaan sang kekasih.

Namun, bukan kisah cinta yang diraihnya. Ia malah ditelantarkan pacarnya yang berprofesi sebagai tenaga kerja Indoensia (TKI) di Malaysia, Asitah.

Harlizan yang ditemui di Panti Bude Rini di Selagalas Kota Mataram mengaku betah berada di Lombok NTB. Ia tak mau pulang ke Malaysia dengan alasan malu pada keluarga besarnya.

"Saya tinggal di dusun yang jauh dari Kota, kalau di Malaysia saya tidak pernah ketemu kayu bakar tapi di sini saya masak pakai kayu bakar," kata Harlizan kepada wartawan di Mataram Selasa 23 November 2010.

Diceritakan dia, pada bulan-bulan pertama berada di Lombok, Harlizan masih berkomunikasi dengan Asitah melalui telephon seluler. Namun setelah empat bulan kemudian hubungannya terputus hingga saat ini.

Sikap kekasih tak juga melunak meski Harlizan hamil dan melahirkan seorang anak lelaki.

"Saya melahirkan anak di Rumah Sakit Umum Provinsi NTB dengan membayar Rp200 ribu. Saya terpaksa menjual seluruh perhiasan saya untuk membiayai anak saya," kata dia.

Beruntung pihak keluarga Asitah yang tergolong berperekonomian rendah mau menampungnya. Namun, kondisi perekonomian keluarga yang serba kurang membuat Harlizan tertekan.

Ia lalu mendatangi Kantor Kepolisian Sektor Suranadi untuk berkonsultasi. Ia resah apalagi izin tinggalnya di Indonesia sudah habis.

Dari Polsek Suranadi, kasusnya ditindak lanjuti oleh Polres Lombok Barat yang kemudian melaporkannya ke Kantor Imigrasi di Mataram.

Keberadaan warga Malaysia tersebut langsung dilaporkan ke pihak Kedutaan Malaysia. Belakangan diketahui pihak Malaysia menerima Harlizan dengan syarat tidak membawa serta anaknya. Kini ia ditampung di penampungan 'Bude Rini'.

Sementara itu Kepala Panti Bude Rini, Baiq Sumarni yang ditemui
VIVAnews membenarkan jika warga Malaysia itu ditampung di Panti tersebut. Menurutnya secara fisik kondisi kesehatan Harlizan cukup baik.

Namun secara kejiwaan dia mengalami depresi berat. Bahkan sudah dua kali pihak panti membawanya ke Rumah Sakit Jiwa Mataram yang letaknya tidak jauh dari Panti.

Sumarni berharap kasus Harlizan segera tuntas mengingat banyak lagi kasus lainnya yang masih ditangani pihak panti Bu de Rini seperti kasus kekerasan terhadap perempuan

Saturday, November 6, 2010

si gadis ikut kekasih pulang ke LOMBOK

MELAKA: “Pulanglah Sara, emak rindu sangat, lupakan segala masalah kerana masa depan kamu lebih penting,” luah seorang ibu, Sharifah Mohamed, 36, apabila anak sulungnya menghilangkan diri buat kali kedua hampir dua minggu lalu dipercayai mengikut seorang lelaki berasal dari Lombok, Indonesia.

Anak perempuan tunggal pasangan Sharifah dan Mohd Nasir Ahmad, 44, Shahara Fujie, 16, dikatakan keluar dari rumah neneknya dengan menunggang motosikal sepupunya yang kemudian ditinggalkan di tepi jalan Kampung Tehel, Bemban, Jasin pada 25 Oktober lalu.


Kehilangan Shahara, anak sulung daripada empat beradik yang lebih mesra dipanggil Sara, dipercayai ada kaitan dengan perkenalannya dengan seorang lelaki berusia 20-an dari Lombok sejak beberapa bulan lalu.

Sharifah dari Kampung Tehel berkata, dia terpaksa berhenti kerja sebagai pembantu kantin sekolah rendah kerana runsing memikirkan nasib anak perempuannya yang melarikan diri buat kali kedua selepas kali pertama berbuat demikian pada 12 Oktober lalu.


“Kali pertama menghilangkan diri, Sara langsung tidak menunjukkan sikap pelik, malah hubungan kami baik. “Bagaimanapun, dia bertindak luar dugaan mengikut lelaki itu hingga menyebabkan kami sekeluarga hairan.


“Sebelum itu, dia ke sekolah dengan memakai pakaian sukan, tetapi tidak pulang sehingga jam 5.30 petang sedangkan kebiasaannya dia pulang sekitar jam 3 petang.

“Saya pergi ke rumah rakannya dan terkejut apabila diberitahu Sara langsung tidak ke sekolah pada hari itu,” katanya ketika ditemui pada sidang media bersama Pembela Barisan Nasional (BN) Melaka, di sini, semalam.


Hadir sama, Ketua Penyelia Pembela BN Melaka, Amir Hamzah Abd Aziz.

Katanya, dalam kejadian itu dia bagaimanapun bernasib baik apabila Sara ditemui polis di Kulai, Johor, tiga hari kemudian.


Katanya, ketika dalam perjalanan pulang dari Johor, Sara memberitahu ingin tinggal bersama neneknya selain tidak mahu bersekolah untuk beberapa hari kerana malu dengan kejadian itu dan dia memberikan izin. “Bagaimanapun, kira-kira jam 5 petang pada 25 Oktober lalu, dia memaklumkan neneknya mahu pulang ke rumah saya untuk mengambil pakaian, tetapi sehingga jam 6.30 petang masih tidak muncul walaupun rumah kami terletak berhampiran,” katanya

Wednesday, October 13, 2010

Lombok, West Nusa Tenggara welcomes Tourism Indonesia Mart & Expo (TIME) 2010


After successfully hosting the Indonesian annual travel mart, Tourism Indonesia Mart & Expo (TIME) or ‘Pasar Wisata Indonesia’ last year, Lombok, West Nusa Tenggara once again will be host of this year’s Indonesia’s annual travel mart Tourism Indonesia Mart & Expo (TIME) or Pasar Wisata Indonesia. This Indonesian premier tourism event will be held on 12 - 15 October 2010 at Santosa Villas & Resort Lombok. Entering its 16th years of conduct, TIME is organized by the Indonesian Tourism Promotion Board (ITPB) and supported by entire tourism components in Indonesia.

The Chairwoman and Steering Committee of TIME 2010, Meity Robot, said the conduct of TIME also supports the government program of “Visit Indonesia Year” which continued this year, as TIME is aimed at promoting Indonesia as tourist destination in international market and at the same time raise the country image as one of global travel destinations.

“TIME is the only international travel mart in Indonesia with business to business concept. The event is a meeting place for those who sell tourism products and services in Indonesia (seller) to international market (buyer). TIME has been listed in the calendar of international travel mart together with ITB Berlin, WTM London, Arabian Travel Mart (ATM), PATA Travel Mart, and so on. TIME 2010 will present all tourist destinations, including popular travel destinations, tourism objects, new product development,” Meity continued.

“The shifting of TIME to Lombok for two consecutive years, i.e. 2009 and this year, is aimed at promoting Lombok and West Nusa Tenggara to the international market and speeding up the development and improvement of infrastructure, tourism facilities and tourism attractions in the region, so that at the end the destination could establish itself as one of global travel destinations. Moreover, with the completion of new international airport expected to be ready this year, it will attract more tourist arrivals to the island and speed up the improvement of infrastructure and encourage more investors to the region to develop new hotels as well as tourism attractions,” Meity went on.

At the press time with Local Organizing Committee of TIME 2010 consisting of West Tenggara Culture & Tourism Office and Lombok Sumbawa Promo, it was stated that the conduct of TIME in Lombok was the initial international l promotional effort or as a kick off towards the success of “Visit Lombok Sumbawa 2012” and this year Lombok is ready to once again host TIME as the event is supported by the provincial government and its tourism industry.

Lombok is located just east of Bali. The island is only 20 minutes by flight from Bali, with Selaparang International Airport. The island possesses various tourism potentials which could attract international market, from nature, i.e. mountain, sea, land) to culture and art. Presently,

Lombok has almost 3500 hotel rooms with international standard. In terms of accessibility, Lombok is flown directly from Singapore by Silk Air, and from Kuala Lumpur via Surabaya by Merpati Nusantara, as well as frequent flights from Jakarta by Garuda Indonesia and Lion Air, and from Denpasar by Merpati Nusantara.

Held last year in Lombok, TIME 2009 was successfully attracted total attendants of 127 Buyers from 25 countries, with top five Buyers consist of Korea, India & Malaysia, Indonesia, USA, and the Netherlands as Top Five Buyers. TIME 2009 was also attracting a total of 250 delegates of Sellers from 97 companies of Indonesia occupying 84 booths at the Exhibition. Sellers came from 15 provinces dominated by West Nusa Tenggara, Jakarta, Bali, Central Java, and East Kalimantan as top five Sellers. The percentage of Sellers based on industry was Hotel, Resort & Spa (75%), NTO (10%), Tour Operator/Travel Agent (7%), Adventure/Activity Holiday (3%), Airline (1.5%), and Others (Hotel Management, Tourism Board, Tourism Organization & Travel Portal (8.5%). Amidst current global financial crisis, TIME 2009 booked an estimated of transaction of USD 17.48 million, or increasing 15% from the previous TIME held in Makassar, South Sulawesi in 2008. “The number of buyers attending TIME for seven consecutive years have been relatively steady since these are potential buyers which sell Indonesian tourism products and services in their markets respectively,” Meity concluded.

TIME 2010 is supported by the travel and tourism industry in Indonesia, namely Ministry of Culture & Tourism, the Provincial Government of West Nusa Tenggara, West Nusa Tenggara Culture & Tourism Office, Lombok Sumbawa Promo, Garuda Indonesia as Official Airlines, other supporting airlines , Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Board of Airline Representatives Indonesia (BARINDO), Association of Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA), Indonesia Hotels and Restaurant Association (PHRI), Indonesian Conference and Convention Association (INCCA), Pacto Convex as the event organizer, supported by national and international media.

Wednesday, September 22, 2010

sukarnya mencari rezeqi di negeri org,






MANTIK Hani dan Nirmala Bonat ialah nama yang indah disebut. Kedua-dua ialah rakyat jiran tertangga kita Indonesia. Dua wanita itu ialah antara ribuan pekerja pembantu rumah tangga yang bertaburan di merata-rata rumah di negara ini.

Mereka ialah pekerja dagang yang sanggup meninggalkan tanah air, merantau bagi mencari cahaya untuk kehidupan insan-insan yang ditinggalkan di kampung halaman.

Sumbangan mereka kepada sistem rumah tangga di Malaysia cukup besar.

Mantik, bagaimanapun sudah meninggal dunia. Dia mati dalam duka nestapa. Umurnya hanya setakat 36 tahun sahaja. Beliau ialah satu daripada ribuan, yang nasibnya begitu malang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia.

Mantik diseksa dengan kejam - dikurung 2 hari 2 malam, kepalanya dibotakkan, seluruh badan menjadi mangsa tumbukan dan tendangan -- oleh majikannya sendiri.




Ketika polis menemuinya, dia kelihatan keliru. Matanya meliar-liar melihat sekeliling. Dia tidak mahu mati lagi. Banyak mulut yang perlu disuap di kampung. Banyak kegembiran yang tergambar di wajahnya setiap kali wang keringatnya tiba di tangan-tangan orang yang disayangi, nun di sana.

Namun, badan Mantik tidak boleh menerima lagi. Beliau menghembuskan nafas terakhir di atas katil hospital di Klang, seorang diri --- berjauhan dari keluarganya di Surabaya.

Murugan, 35, majikannya seorang penjual air tebu, kini sedang menunggu hukuman gantung sampai mati.

Nirmala, sebaliknya bernasib baik. Dia masih bernyawa. Wanita dari Nusa Tenggara Timur, Kupang itu pada mulanya kelihatan amat hodoh sekali. Semasa dia ditemui orang awam setelah melarikan diri dari rumah majikannya Mei 2004, keadaannya amat uzur. Dia mengalami kecederaan parah di kedua-dua payu daranya.

Dia diseksa - mungkin - secara konsisten dan sistematik dengan air panas dan cawan besi panas menyala. Kulit-kulit badannya turut dijadikan fabrik untuk diseterika.

Nirmala, gadis malang itu diperlakukan oleh majikannya yang dipanggilnya ibu. Yim Pek Ha bekas pramugari baru berusia 41 semasa dia ditahan reman polis pada 22 Mei 2004.

Tiada siapa sangka, wajah Pek Ha yang ayu dan nampak baik itu tergamak melakukan perbuatan sebegitu.

Kedua-dua kes itu merupakan kes yang cukup ikonik. Nirmala dan Mantiklah yang menjadikan hubungan dua hala Malaysia dan Indonesia tegang dan panas.

Sukar Malaysia mempertahankan sikap rakyatnya yang memperlakukan perbuatan itu ke atas rakyat saudara seberang itu.

Walaupun, ia dianggap sebagai kes yang begitu terpencil, namun sukar untuk kita menepisnya.

Hanya pengadilan yang boleh menunjukkan iltizam kita terhadap kes-kes seumpama itu.

Kedua-dua kes itu, sudah melalui proses pengadilan.

Kes Nirmala yang paling panjang. Ia memakan masa hampir enam tahun - masih belum selesai.

Amat dikesalkan proses keadilan itu memakan masa yang terlalu lama. Orang undang-undang ada berkata jika keadilan itu dilambat-lambatkan, maka keadilan itu sendiri dinafikan (justice delayed is justice denied).

Tapi, kita tidak pasti di mana silapnya, sehingga kini Pek Ha, kini 46, masih belum menjalani proses koreksi di penjara.

Dia dijatuhkan hukuman penjara 18 tahun oleh Mahkamah Sesyen Kuala Lumpur pada 27 November 2008, bagaimanapun pada 3 Disember 2009 Mahkamah Tinggi mengurangkan jumlah hukuman penjara Pek Ha kepada 12 tahun.

Kesnya kini masih dalam proses rayuan. Difahamkan tarikh untuk sebutan di Mahkamah Rayuan belum diperoleh lagi.

Sepatutnya kes Nirmala ini menjadi pengajaran kepada kita semua. Namun sekali lagi, kita tidak pasti mengapa ia menjadi begitu birokratik. Mengapa Pek Ha ini begitu istimewa sehinggakan ia memakan masa bertahun-tahun?

Baca ringkasan laporan Utusan Malaysia, Khamis, 10 Disember 2009 ini.

''Namun hakikatnya, sejak dijatuhi hukuman oleh Mahkamah Sesyen pada 27 November 2008, Pek Ha hanya sehari merengkok di dalam penjara.

Pek Ha disumbat ke dalam penjara setelah Hakim Mahkamah Sesyen menolak permohonan lisan peguam bela bagi menggantung pelaksanaan hukuman itu.

Begitupun tidak sampai 24 jam, dia dibebaskan setelah permohonan bertulis peguamnya dibenarkan oleh Mahkamah Sesyen.

Dia dibebaskan dengan wang jaminan ditambah menjadi RM200,000 dan syarat jaminan pasport antarabangsanya diserahkan kepada mahkamah serta melapor diri di balai polis terdekat sekiranya ingin keluar dari ibu kota.

Hakim Mahkamah Sesyen membenarkan penggantungan pelaksanaan hukuman itu mengikut Seksyen 311 Kanun Tatacara Jenayah selepas mengambil kira masalah kesihatan Pek Ha yang menghidap asma selain mempunyai empat anak yang masih kecil."

Kita hairan mengapa kes Pek Ha ini terlalu lembap?

Tolak ke tepi dulu mengenai Nirmala dan Pek Ha itu. Kelmarin, kita digemparkan sekali lagi. Seorang lagi pekerja Indonesia, juga pembantu rumah tangga atau amah didera dengan cukup kejam.

Bukan sahaja dia didera pada tubuh badannya, dia juga dirogol oleh majikannya --- kononnya di hadapan isterinya sendiri.

Pasangan suami isteri itu kini sedang direman. Polis sedang menyiapkan siasatan sebelum mereka didakwa di mahkamah.

Gadis dari Jawa Timur itu yang namanya masih dirahsiakan bagi mengelak dia aib akibat perkosaan itu, hanyalah sekumit kisah penderaan terhadap amah oleh majikan di negara ini.

Carian di Arkib Utusan Online mendapati banyak kes seumpama itu berlaku. Terbaharu: Mei lalu, seorang ibu tunggal, Hau Yuan Tyng, 44, dihukum penjara lapan tahun selepas didapati bersalah menyebabkan kecederaan teruk ke atas bekas pembantu rumahnya, Siti Hajar Sadali dengan menggunakan air panas, tukul besi dan gunting, tahun lalu. Tertuduh bekas ejen hartanah beranak dua melakukan perbuatan itu di kondominium mewahnya di Mont Kiara, Kuala Lumpur.

Biarlah kisah-kisah sedih itu menjadi pengajaran kepada kita semua. Saya tidak boleh bayangkan jika anak saya meninggalkan saya mengharungi lautan untuk bekerja membantu saya --- tapi kemudian diseksa, didera, diperkosa dan dibunuh…

Wahai Mantik Hani, Nirmala Bonat dan yang senasib, anda sebenarnya adalah Ratu.

Saturday, September 18, 2010

dugaan INDONESIA & MALAYSIA menjadi raksasa ekonomi dunia

Malaysia dan Indonesia wajar berperanan besar dalam membentuk, mencorak, menggerak serta mempengaruhi dinamika geopolitik Asia Tenggara dalam era pasca 9/11 bagi mengimbangi dominasi Amerika Syarikat (AS) yang bimbang terhadap supremasi globalnya apabila China kini bangkit sebagai kuasa ekonomi dunia, dan mungkin ketenteraan pada masa depan.

Gagasan ini berasaskan hipotesis kewujudan pihak ketiga yang berhasrat mengadu-domba Malaysia dan Indonesia ke peringkat paling maksimum atas motivasi politik domestik, politik dua hala atau geopolitik serantau dan global.

Lantaran itulah, hubungan Malaysia-Indonesia kontemporari sering dilanda gelora diplomasi kerana majoriti kerenah aktor bukan negara perlu distrategikan semula berpaksikan prinsip interdependensi yang positif serta selaras dengan dinamika geopolitik serantau dan sejagat di abad ke-21.

Inisiatif ini perlu dilaksanakan secara komprehensif, bersepadu dan merangkumi dimensi kerajaan serta rakyat jelata di Kuala Lumpur-Jakarta agar tersimpul jalinan muhibah yang rasmi atau sebaliknya, di semua peringkat kehidupan meliputi agama, budaya, pendidikan, ekonomi, perdagangan, politik dan geopolitik.

Antara aspek geopolitik yang perlu difokus dan distrategikan adalah program dan dasar anti-terorisme, keselamatan maritim, keselamatan tenaga serta lain-lain fenomena keselamatan bukan tradisional termasuk jenayah rentas sempadan.

Aspek ini penting kerana ia adalah antara faktor semasa yang menjadi asas kepada dasar keselamatan, pertahanan, dasar luar, ekonomi dan tenaga AS yang sedang dicengkam paradoks unipolariti dunia.

Oleh sebab itulah, AS yang mengundurkan seluruh tenteranya dari pangkalan laut dan udaranya di Filipina mulai 1979, akibat tewas dalam Perang Vietnam (1953-1975), kini kembali bertapak di Asia Tenggara.

Tindakan ini dilegitimasikan menerusi perisytiharan AS pada 15 Februari 2002, bahawa seluruh Asia Tenggara adalah lawang kedua kepada perang terorisme global, walaupun tenteranya sekadar aktif di selatan Filipina, sedangkan Indonesia adalah mangsa sasaran terorisme dalam bentuk ledakan bom paling utama dalam tempoh 2002-2009.

Tindakan ini juga dihalalkan oleh pelabelan musuh-musuh perang terorisme di Asia Tenggara mutakhir ini sebagai teroris dan militan Muslim proksi al-Qaeda yang mengancam keselamatan AS serta sekutunya di serata jagat walaupun proses pensekuritisasinya tidak dilakukan secara komprehensif.

Musuh-musuh ini hanya diketengahkan kepada khalayak dunia dalam era pasca 9/11 menerusi propaganda media cetak, elektronik dan digital yang memfokus sepenuhnya kepada kepentingan barat menerusi kewartawanan yang tidak diganding dengan bukti kukuh, tetapi dilakukan secara bertubi-tubi.

Biarpun ramai penganalisis barat menyatakan apa yang disifatkan sebagai teroris dan militan Muslim di Asia Tenggara hanya mempunyai objektif politik yang lokal, namun propaganda tersebut tetap menghebahkan kelompok tersebut sebagai mempunyai jaringan antarabangsa yang nyata sehingga kononnya mampu mewujudkan Daulah Islamiah dari Thailand hingga ke Australia.

Impak propaganda ini membolehkan sesetengah negara satelit barat atau sekutu rapat AS di Asia Pasifik mencorak dan mewarnakan geopolitik kontemporari Asia Tenggara dalam era pasca 9/11 bagi memenuhi cita rasa AS ke peringkat maksimum.

Ini kerana mereka adalah pakar dalam selok-belok perang saraf, propaganda hitam, operasi bendera palsu dan mungkin juga terorisme negara bagi melegitimasikan sesuatu perancangan agung di sesebuah rantau sasarannya berdasarkan paradigma realisme total.

Dalam tempoh yang sama, wujud pula pihak-pihak tertentu yang mengadu-domba Malaysia dan Indonesia sejak 2002 supaya hubungan diplomasi kedua-dua negara jadi berantakan ke tahap yang parah.

Perkembangan sebegini pasti akan memudahkan AS mencapai cita-citanya untuk menguasai secara fizikal seluruh aspek keselamatan maritim di Selat Melaka yang mana Malaysia dan Indonesia merupakan negara pesisir yang enggan mengkompromikan kedaulatan perairan tersebut kepada mana-mana kuasa asing.

AS memang sentiasa berusaha untuk menguasai keselamatan Selat Melaka secara fizikal dan total sejak 2002, kerana perairan ini penting kepada strategi maritim dan strategi tentera lautnya di Asia Tenggara dalam era pasca 9/11.

Usaha ini juga bertujuan membolehkan AS menguasai seluruh laluan maritim kepada petroleum yang diangkut dari Asia Barat ke Asia Timur selaras dengan strategi keselamatan tenaga negara tersebut serta sekutunya di rantau Asia Pasifik.

Tetapi, matlamat tersirat kepada strategi proaktif ini adalah untuk memudahkan AS mengimbangi atau mungkin menyekat kebangkitan China secara ekonomi dan militari jika kebangkitan tersebut mengancam supremasi global AS di hari-hari mendatang.

Aspek keselamatan energi pula menjadi antara komponen penting geopolitik AS di Asia Tenggara bagi menjamin kekuasaan negara tersebut dalam industri petroleum dunia yang dilaksanakan oleh pihak barat, khususnya AS, menerusi strategi bersepadu di bidang pengeluaran, pemasaran, pengedaran, pengangkutan serta penentuan harganya.

Aspek ini kritikal kepada AS kerana jawatankuasa yang menggubal polisi keselamatan energinya mengeluarkan laporan pada 2001 yang menegaskan bahawa pengeluaran petroleum di hemisfera utara kini makin pupus sementara 50 peratus minyak dan 33 peratus gas untuk menampung keperluan domestik AS pada tahun 2020 dijangka terpaksa diperoleh dari sumber import, majoritinya dari Asia Barat.

Aspek ini menjadi lebih kritikal kepada AS apabila China dan India menjadi pesaing terbesar kepada penggunaan minyak dan gas dunia pada abad ke-21. Tetapi, oleh kerana India sudah menjadi sekutu AS dalam era pasca 9/11, maka hanya faktor China sahaja yang kini membimbangkan AS dalam konteks geopolitik dan keselamatan energinya di Asia Tenggara pada hari muka.

Oleh sebab itulah, strategi militarisasi AS berkait keselamatan energinya yang kini wujud di Asia Barat berkemungkinan besar diperluaskan skopnya ke lain-lain negara rantau Asia, termasuk di Asia Pasifik, terutama sekali di Asia Tenggara.

Maka, di sinilah relevannya hubungan Malaysia-Indonesia dalam konteks geopolitik AS di Asia Tenggara dalam era pasca 9/11 kerana ia penting untuk mengimbangi kehadiran fizikal tentera AS di rantau ini serta mengimbangi pengaruh serta kebangkitan China yang kini melaksanakan strategi diplomasi mesra terhadap anggota ASEAN.

Keseluruhan anggota ASEAN mungkin satu hari kelak terperangkap dengan strategi geopolitik AS di rantau ini jika Malaysia dan Indonesia tidak mampu berperanan besar dalam konteks tersebut.

Jika ini terjadi, kemungkinan besar negara-negara Asia Tenggara dicengkam dilema keselamatan yang serius sama seperti dalam era Perang Dingin yang dipropagandakan akibatnya menerusi teori domino AS di rantau ini.

Selanjutnya, antara aspek bilateral Malaysia-Indonesia yang penting dititikberatkan dalam kajian dan menstrategikan semula hubungan kedua-dua negara ini adalah termasuk kewujudan suatu mekanisme tetap bagi menyelesaikan apa jua masalah, perbezaan, krisis dan konflik antara mereka.

Jika faktor tenaga kerja, contohnya, sering dijadikan isu yang menyemarakkan kemarahan sesetengah aktor bukan negara di Indonesia terhadap Malaysia, perlulah diwujudkan mekanisme tetap bagi mengatasi seluruh matlamat bercanggah di kalangan kedua-dua negara mengenai aspek ini.

Malaysia dan Indonesia memang sejak berpuluh tahun lalu mempunyai mekanisme tetap seperti Jawatankuasa Am Sempadan serta lain-lainnya. Bagaimanapun mekanisme ini tidak menyeluruh, tidak bersepadu dan kebanyakannya cuma bermesyuarat secara berjadual setahun atau dua tahun sekali.

Seterusnya, Malaysia perlu memberikan prominen kepada perwakilannya di Indonesia supaya memanifestasikan prinsip saling hormat-menghormati antara sahabat senusantara dan sentiasa berperanan penting dalam mencorakkan dinamika diplomasi dua-hala dan geopolitik serantau.

Ini bermakna Kedutaan Malaysia di Indonesia perlu dijadikan jambatan muhibah antara kedua negara menerusi pelbagai pendekatan dan program yang selaras dengan kepentingan nasional Kuala Lumpur-Jakarta dan selaras dengan tuntutan era pasca 9/11.

Penstrategian ini pasti akan membolehkan Malaysia dan Indonesia mengetengahkan world view dan pendirian yang berwibawa serta bebas dalam konteks geopolitik serantau, terutamanya mengenai inisiatif anti keganasan, keselamatan tenaga dan lain-lain isu keselamatan tradisional dan bukan tradisional.

Ia juga akan lebih mengharmoni dan memantapkan lagi hubungan Malaysia-Indonesia secara diplomasi atau tidak formal supaya kedua-dua negara menjadi pemain utama dalam usaha mengelakkan perkembangan negatif yang boleh muncul akibat percaturan geopolitik AS terhadap China atau sebaliknya, di Asia Tenggara, di hari muka.